Bromo, 22 Juli 2013
Horeee!! Abang akan pulang! Ya, pulang dari Taiwan setelah jauh-jauhan lima bulan dariku pasca menikah. Kepulangan Abang mendekati di awal bulan puasa, tak mengubur
cita-citanya untuk tetap mengajakku berbulan madu kedua. Bukan ding, kalo sama
dia namanya berpetualangan. Intinya, tak ada yang manis-manis di setiap
liburan, selain menikmati keindahan alam berdua yang sebelumnya di lalui dengan
perjalanan yang pahit (ingat bagaimana perjalanan ke Karimunjawa kan? Aku
hampir kapok naik kapal lagi.). Kali ini lebih ekstrim dan gila. Hasrat yang
tinggi untuk melihat dan mengabadikan upacara tahunan “Yadnya Kasada” milik
masyaarakat Hindu suku Tengger, membuat kami mengemas barang-barang untuk pergi
ke Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur.
Yap, tiket kereta sudah di tangan. Kereta akan mengangkut tubuh kami ke Probolinggo pukul sepuluh malam, dari Semarang. Gaya beckpacker telah melekat pada cara Abang dan aku berpakaian, tas
punggung gemuk dan hampir mau muntah. Isinya baju-baju yang akan kami berdua
pakai selama kurang lebih lima hari, dan stok persediaan logistik perut suka lapar
kami.
Taksi ‘burung biru’ ini telah mengantarkan tepat di pintu masuk Stasiun
Tawang, tempat kami akan naik kereta ke Malang, memulai bulan madu kedua kami.
Duduk delapan jam, kedinginan, tanpa bantal dan tanpa selimut. Tak terduga,
Abang membawa sleeping bag yang siap
menghangatkan tubuhku. Itu, kantong tidur mirip kepompong yang digunakan para pendaki
gunung agar tak hipotermia. Wah, keren sekali. Abang memang selalu mau rempong
dan antisipatif. Dia tak pernah mengeluh lelah ataupun menolak yang aku ingin
bawa.
Bromo telah terlihat kawahnya yang tinggal separuh karena erupsi tahun
2010 lalu. Aku sudah menaiki jeep di padang pasir berisik dengan baju lapis
tiga. Meskipun matahari menyilaukan, tapi suhunya dingin sekali. Baiklah, aku
menggenggam erat tangan Abangku, dan dia menghitung anak tangga yang tegak
lurus menuju kaki langit. Sesekali aku berhenti karena kelelahan, kehabisan napas,
kekurangan oksigen plus diseling bau tletong alias kotoran kuda yang semerbak.
Maklum, banyak orang yang menyewa kuda untuk berjalan-jalan disini.
Gunung Batok di samping kananku, sudah jelas terlihat alur-alurnya.
Berarti aku harus membunuh semua anak tangga ini untuk melihat pemandangn yang
lebih indah lagi. Kali ini Abang agak menarikku. Di belakangku sudah berentetan
orang mengantre menaiki anak tangga satu-satunya untuk menuju puncak ini. Aaku
tak mungkin membuat kemacetan di tengah jalan bersudut elevasi hampir 90
derajat ini. Namun terlihat jelas di wajah mereka, entah bule, entah pribumi,
semua ngos-ngosan.
2392 meter diatas permukaan laut telah
aku taklukan. Ini gunung kedua yang sudah aku jamah sampai puncak dengan
berjalan kaki setelah bukit Kendalisodo warisan cerita rakyat Baru Klinting di
belakang sekolah. Hahaha meskipun kurang keren, aku bangga karena bisa mendaki
dan menuruninya dalam waktu tiga jam, untuk penilaian lari mata pelajaran
olahraga ketika SMA.
Tak mau kehilangan momen, aku pun berfoto berkali-kali banyaknya.
Sesekali aku melongokkan kepalaku dari pagar batas tepian kawah. Pemandangan
sangat gila, ketika puluhan orang mengais rejeki dengan mengembangkan jaring
dan sarungnya. Mereka berdiri persis di tebing miring sisi dalam kawah. Di
bawah mereka asap putih panas mengepul dari lubang tak terlihat. Aku bisa
membayangkan, sepertinya jika mereka terpeleset jatuh dan masuk kedalamnya, tak
akan lama mereka akan mengambang matang setulang-tulangnya. Aku berkali-kali
mengutuk “Crazy! Crazy!” untuk mereka yang melakukan aksi hampir bunuh diri itu
hanya untuk mengais rupiah, atau sayuran dan hewan yang di buang ke kawah dari
warga Tengger untuk persembahannya pada dewa
Malamnya, kami tak tidur. Dengan bekal makanan yang sudah hampir habis
di kereta, dan berselimutkan sleeping bag
kemana-mana, aku menggandeng Abang dan tak mau lepas dari kehangatannya. Tengah
malam, pukul satu pagi, hanya untuk menyaksikan para warga Tengger yang
menyalakan api di tengah sesajen dan dupa, berdoa dengan bahasa mereka. Mereka
telah siap dengan sajian makanan segala rupa. Dibentuk dengan indah, siap
digulingkan, dihanyutkan di kawah puncak gunung Bromo (Bromo berasal dari
bahasa Sansekerta “Brahma”, salah satu dewa umat Hindu). Bahkan aku sempat
melihat beberapa ekor kambing yang meng-embek seraya menunjukkan wajah takut
dan gelisah. Aku iba dan seakan bisa bercakap dengan mereka, sepertinya mereka
bilang “Help me, please. San”. Keren, kambingnya bisa ngomong Inggris.
Upacara Yadnya Kasada yang masih belum usai sampai fajar membuat kami
urung melihat prosesi puncaknya, yaitu ketika semua dimasukkan ke kawah gunung.
Waktu sahur membuat kami harus mencari warung. Dingin menusuk sampai ke dalam
tulang, kaku. Tangan sudah tak terasa, bibir sangat pucat. Kakiku terseok-seok
mengantam pasir yang tebal menuju warung bakso. Kami makan seadanya, untuk bekal puasa esok hari sampai sorenya lagi.
Masih di Bromo. Aku baru saja bangun dari gonjang ganjing jeep yang
membawa kami menaiki Gunung Penanjakan, untuk melihat salah satu sunrise
terapik, tercantik. Konon katanya, disini spot paling indah yang diburu para
fotografer. Matahari pertama di bawah langit biru, menembus celah-celah mega,
dari lekukan gunung Bromo, gunung Semeru, Gunung Batok dan gunung sekitarnya. Seperti
di foto-foto bromo yang aku lihat lewat mesin pencari Google Image. Bule-bule
trenyata telah sampai duluan. Mereka sudah lebih dulu memasang tripod dan
kamera dengan lensa telenya di spot terdepan.
Namun apa kata dunia, ketika sewa jeep mahal, dibarengi dengan
pengorbanan melawan dingin, dan solat subuh bertayamum, ternyata tak menemukan
sedikitpun titik kuning mentari karena mendung. Awan tebal dank abut turun
menggantung di atas kami. Aku hanya melihat warna abu-abu. Kecewa setengah mati
Gan!!!
Syukurlah, kecewa itu diganti Abang dengan tour de Malang juga. Kami makan
bakso asli Malang, porsinya bikin perut eneg karena terlalu bervariasi. Kami
juga menghabiskan malam di hotel yang homy
banget, Spendid Inn dan berjalan-jalan dengan sepeda onthel yang jadul. Indah
bukan?
Kamipun pulang dengan perasaan yang senang. Duduk lagi diatas roda-roda
besi, melahap pemandangan persawahan di sepanjang sisi kaca jendela kereta. Menuju
Jakarta untuk mengurus dokumen visa. Delapan belas jam perjalanan. Abang berbuka
dan sahur di tempat duduk yang masih sama. Lalu, kami tertidur kelelahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mari berbagi kebahagian, disini ya..