Sabtu, 29 Desember 2012

Debur Cinta di Karimunjawa

Pulau Gosong, Karimunjawa

Nyuuut… nyuuuuuut.. Kepala ini pusing bukan main. Perut seperti diobok-obok. Jantung berdegup. Keringat dingin bercucuran keluar. Wajahku mulai berubah pucat. Mulutku mulai kukatupkan erat. Tanganku yang bergetar mencengkeram plastik hitam kecil, kalau-kalau aku siap mengeluarkan sarapan di hotel tadi sebelum berangkat. Aku telah duduk di kursi kapal cepat yang akan mengantarkanku ke Pulau Karimunjawa. Tempat bulan madu pertama kami. Aku dan Abangku. Biar mirip kaya film Breaking Down gitu. Seminggu setelah pesta pernikahan. Perjalanan perang menerjang ombak ini melahap lima jam waktuku, terombang-ambing di tengah lautan. Aku ingin segera sampai!

Aku dibonceng oleh suami baruku itu pertama kali. Perjalanan memualkan itu terbayar oleh sampainya kami di cottage kecil tempat kami akan menginap untuk beberapa hari ke depan. Masih asri, jauh dari keramaian. Nuansanya masih pedesaan, dengan tiang-tiang teras kamar yang terbuat dari kayu. Atap genting ditutupi oleh daun nipah yang telah kering berwarna cokelat gelap. Di belakang cottage-cottage yang jumlahnya hanya delapan buah ini, terhampar pemandangan laut biru lepas. Terlihat ada dermaga disana, pohon-pohon bakau dan pohon kelapa yang sedikit condong dengan langit biru bersih sebagai backgroundnya. Surga dunia. Namun, suasana romantis itu mendadak mencengangkan ketika kami memasuki kamar cottage kami. Kenapa dia memesan kamar dengan twin bed?? Fyuhh..

Maklumlah, kami memang tak memesan travel agent untuk paket honeymoon ini. Semuanya serba dia atur sendiri. Selain lebih hemat, tanpa agen ternyata bisa membuat kita bebas pergi kemanapun tanpa dibatasi waktu. Apa sih yang susah, semua bisa kita lahap dari makanan pokok sehari-hari yang namanya internet.

Sunset kali ini kita habiskan di tepian dermaga. Bercengkerama, berfoto, menemukan obrolan untuk sebuah nama anak kami kelak. Malampun datang dan menggeser matahari yang memang malu untuk menampakkan dirinya. Aih, sudah malam lagi, cepat sekali. Rasanya yang ditunggu-tunggu adalah saat malam tiba. Aku masih malu, masih kikuk dengan keadaan yang benar-benar berdua. Ketika kamar adalah hal yang tabu dan dijauhi bagi pasangan yang belum menikah, kini aku telah tenggelam dalam indahnya malam-malam yang hanya terdengar suara jangkrik, bahkan rintik hujan di luar kamar kami.

Jum’at itu, aku telah rapi dengan blus ungu kesukaanku dan celana jeans hitam andalan. Dia, celana training biru donker, kaos kuning, topinya, dan tak lupa menenteng tas ransel biru penuh dengan kamera dan tripod. Kami jalan-jalan di mangrove track, berpindah dari pantai satu ke pantai lainnya. Menikmati debur ombak yang menghantam batu karang. Menikmati putihnya pasir pantai. Berayunan di bawah pohon rindang. Saling memeluk, saling mengecup.
Pantai Ujung Gelam, Karimunjawa
 

Adventuring honeymoon kami tak berhenti sampai disini. Pagi-pagi kami siap-siap untuk snorkeling di tengah lautan karimunjawa. Entah laut di antara pulau apa saja, aku sampai tak ingat namanya. Aku hanya ingat itu adalah pertama kalinya aku snorkeling. Aku yang bisa berenang ala kadarnya, harus pakai kacamata besar itu, alat bantu bernafas, pelampung dan kaki katak. Sungguh aku malah jadi kebingungan untuk mengkoordinasikan semua alat-alat yang terpasang di badanku itu. Alhasil, aku minum air garam. Asssiiiiiinnn.

Snorkeling

Belum lama setelahnya, aku sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan piranti itu. Aku terpukau oleh indahnya pemandangan bawah laut sana.  Cantik. Pengalaman yang tak akan pernah aku lupakan dalam hidup, dan aku mau lagi kalau diajak kesini. Hehe. 

Pulau Tengah, Karimunjawa

Hari itu penuh dengan cerita. Berfoto ria di dalam air, naik kapal menerjang hujan dan ombak, menepi di Pulau Tengah, makan nasi cumi bungkus, singgah di Pulau Gosong, makan pop mie ditemani ikan hiu, menjamak solat dalam keadaan basah, tanpa sajadah dan mukena. Maafkan kami Ya Allah.

Sepulang makan malam dan beli oleh-oleh, kami lelah sekali. Mata sudah merah oleh air laut, kulit sudah hitam gosong nan busik tanpa polesan sunblock. Badan sudah maksa untuk direbahkan. Bahkan kakinya yang terkena batu karang menjadi semakin terasa perih saat letih datang melanda. Aku memberanikan diri memakai baju tidur warna pink mencolok cerah, dan dia amat terkejut. Aku berusaha menutupi rasa malu, lagi lagi.

Besok siang, kapal yang akan mengantar pulang sudah bersandar di dermaga. Besok siang pula kami harus sudah kembali lagi ke Pekalongan, rumah mertuaku. Mempersiapkan keberangkatan Abangku itu. Ya, dia akan ke Taiwan lagi. Ke universitas yang baru dia jamah tiga bulan lalu. Study yang sempat terhenti beberapa waktu hanya untuk pulang dan menikah denganku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari berbagi kebahagian, disini ya..