Menyeruput kopi atau teh di hawa yang dingin sudah biasa.. Nah, yang anget-anget di sore hari adalah semangkuk bubur kacang hijau dengan santan cair plus ketan.. Aku terketuk untuk mencobanya.
Biasanya aku hanya tinggal mengeruk bubur itu dari panci Ibuku, tanpa menyadap sedikitpun resepnya. Ah beginian saja aku juga bisa. Maka mulailah aku beli kacang hijau impor dari Vietnam di toko. Merknya bertuliskan huruf cina, aku tak bisa membacanya. Kacang hijaunya mulus-mulus, tanpa cacat.Warnanya juga hijau tua tertutup klorofil dengan sempurna.
Eksperimenkupun dimulai dengan merendamnya dalam air, seperti saran Ibu lewat sms. Setelah beberapa saat kurendam, kacang hijau itu kurebus dengan air. Hasil browsing mengatakan bahwa kacang hijau yang sudah empuk adalah ketika kulit bijinya terbuka. Tapi.. satu, dua jam., kacang hijau itu tak ayalnya tetap seperti putri tidur yang tak mau meletus terkena gundukan air mendidih. Aku tuangkan garam sedikit dan sisiran gula merah, jahe serta vanilli (pakai pandan lebih enak, di Taiwan nggak ada daun pandan, Jeung.)
Kututup lalu kutunggu lagi. Maksudku, aku segera ingin menuangkan santan dan menyantapnya hangat-hangat. Terlebih lagi hidangan kacang hjau itu ingin aku sajikan ketika suamiku pulang.
"Assalamualaikum", suamiku mengetuk pintu.
"Taraaaa.. Abang! Aku memasakkan kacang hijau untukmu.. Hehe." Aku cengengesan.
Kudapati suamiku sedikit mengerutkan keningnya. Pertanda buruk pemirsa!!!
"Kok pahit?" ujarnya. Itu pujian apa perkataan jujur yaaa? Aku mencicipi juga.. Ternyata memang iyaaa,, pahit sekali rasanya. Pada akhir riwayatnya bubur kacang hijau itu akhirnya aku buang. Hikss..
Suatu pagi..
Kacang hijau kualitas ekspor itu memang terasa berbeda manakala suamiku mencoba mengecambahkannya, Batangnya kuat berkayu. Gagal lagi. Hingga pada suatu pagi, kami akan mencoba lagi memasak kacang hijau itu lagi. Yaahh, kami berkali-kali mengajukan berbagai macam hipotesis mengapa bisa pahit begitu, padahal gulanya sudah banyak.
Lalu beraksilah suamiku dengan tungkunya. Kali ini dengan gula pasir kemudian santan dipisah. Kami menduga apa karena santan yang kami pakai adalah santan instan, maka kami memisah santannya.
Wadalah, eh,, sudah dicampur ketan putih manis, kacang hijau itu masih juga menyisakan rasa pahit ketika melewati pangkal lidah. Aihhh!! Tak bisa dimakan lagi. Dibuang sayang, suamiku merebus lagi kacang hijau itu dengan air yang baru, tanpa panili tanpa jahe. Rasanya mendadak jadi tawar.
Suatu siang..
Selang beberapa minggu dari pagi yang suram lalu itu, suamiku menuangkan seluruh sisa kacang hijau dalam kemasan ke dalam baskom untuk direndam semalaman.
"Mau buat kacang hijau lagi Bang?" tanyaku.
"Yoi", katanya santai.
Dalam hati aku hanya berbisik. Biarlah sana Abang aje yang mbikin, aye tak mau tanggung jawab. Aku terkekeh. Eh untung tak dapat dihindari, kacang hijau itu kini telah matang di dalam mangkuknya. Aku mencicipi.
"Nggak pahit!" aku terkesima.
"Aku buang airnya" kata suamiku.
Oh jadi ternyata dia rempong bolak balik nyuci panci untuk membuang air si kacang hijau itu to. Haha. Tapi memang benar Jeng, air rebusan kacang hijaunya sangat terlihat cokelat kemerahan.Maka harus dibuang dulu. Aku berargumen mungkin karena produknya diekspor dari Vietnam ke Taiwan atau berbagai negara dengan masa kadaluarsa yang lama dan agar tahan dari jamur, biji kacang hijaunya telah dilapisi dengan semacam zat agar tetap awet disimpan dalam plastik. Layaknya mie instan, air rebusan pertama menghasilkan warna kuning yang kuat kan?
Kesimpulannya, perlakuan untuk makanan bisa macam-macam, harus jeli ya Jeng. Nggak cuma dicuci bersih, atau direndam, atau dijemur, tapi juga ada yang harus direbus dulu. Sipp!!
Terima kasih untuk suamiku yang katanya dosen ilmu tumbuhan itu,, heheh.. semoga bermanfaat ya Jeng.. Biar nggak pahit sepahit bubur kacang hijauku,, heheheh...
mbak, tadi siang saya bermaksud membuat sari kacang hijau untuk mpasi tapi saya cicipi pahit baik kacangnya maupun air rebusannya jadi urung saya berikan.berbahayakah jika dikonsumsi?terimakasih
BalasHapus