Rabu, 08 Januari 2014

Kasihan Daun Pintu Itu..

Jegleeeg!!!
Jegleeeeeeggggg duuuenggg!!!
Krutik krutik jegleeeggg bbbbwwumm!!!

Aku mulai tak tahan dengan suara dentuman keras dari tetangga apartemenku ini!!
Well, aku hanya 'nebeng' di negara ini. Aku tak berhak menghujat para citizen berwajah oriental itu. Iya, mereka, yang kebanyakan berkacamata, yang handphonenya hampir semuanya touchscreen, yang selalu naik scooter atau sepeda dan yang suka memakai masker dimana-mana. Mereka cuek, dan hidup berpasangan dengan gadis atau pria mereka. Seperti yang tersirat dari film jebolan Hollywood.

Ah, aku bukan racist, guys. Aku kagum dengan budaya mereka, pemerintah mereka, semua yang aku lihat baik di negara ini, meski, kadang, sometimes, aku ingin berteriak dengan lantang di apartemen yang menggema ini. Bangunan anti gempa ini justru menimbulkan gaungan suara yang memantul kemana-mana. Yang berbisik jadi terdengar sangat keras. Suara mesin cuci jadi mengaung tak jelas. Dan suara pintu mereka yang histeris menangis karena si tuannya selalu mengabaikannya. Entah, mengapa mereka suka sekali menjedorkan pintu kamar mereka, dan pintu masuk utama. Apa salah pintu pintu itu?? Bukankah pintu-pintu itu yang jadi tameng utama pada apapun yang hendak masuk menerkammu?? Hah?

Aku emosi sendiri..

Tiga bulan disini rasanya aku belum mau beradaptasi dengan salah satu hal kecil itu. Sepele, tak perlu didiskusikan. Memang, pintu itu terbuat dari besi-besi yang kokoh tebal, bukan pintu kayu biasa seperti di Indonesia. Ini yang melambungkan suara seperti mercon atau bom yang meledak di tengah lorong bawah tanah. Bwuuum!
Kasihan daun pintu itu, kasihan juga telingaku.. :(


Hualien City, Taiwan
January 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari berbagi kebahagian, disini ya..