Bling bling dan sparkling. Cinta para kawula muda. Tumbuh begitu saja. Rasanya indah. Indaaaah sekali.
Sorotan mata pada pandangan pertama. Degub jantung memompa warna merah pada wajah. Rasa malu. Salah tingkah. Ada kata cinta, lalu kita jadian.
"Semua akan indah pada waktunya"
Bahasa Indonesia pada kalimat diatas sudah sangat lugas untuk diartikan. Namun, banyak juga yang masih tidak mengerti.
Kassa misalnya. Gadis berabut hitam nan lurus panjang. Bandana warna biru membelah kepalanya menjadi bagian belakang dan poni yang menutup sebagian dahinya. Mungkin dahinya sedikit jerawatan.
Kassa adalah salah satu gadis yang diminati banyak cowok di sekolahnya. Jelas saja, murid baru sellau jadi incaran. Dia tak hanya rupawan, namun juga murah senyuman, dermawan, pintarwan dan terutama masih perawan. Ah ngaco. Pokoknya dia cewek idola seperti di FTV pada umumnya.
"Kamu ini jangan tergesa-gesa menerimanya, Sa." Sinta menasehatinya. "Kamu kan baru dia kenal dua bulan." Lanjutnya lagi.
"Hm, tapi aku nggak tahu kenapa aku nyaman sama dia." Kassa mempertahankan.
"Sa, cowok yang suka kamu tuuh banyak. Ngapain kamu milih dia. Sayang di kamu tauk. Kamu itu terlalu baik buat dia!" kali ini nada Sinta beranjak ke bar lebih tinggi. Penuh protes.
Kassa mengabaikan ucapan Sinta. Melewati Sinta sambil sedikit menghimpitkan bahunya ke bahu Sinta. Tanda kalau dia marah.
Sinta adalah orang kesekian dan kesekian yang menghakimi hubungan baru Kassa dengan Eno. Kassa mengakhiri kesendiriannya selama ini dan mengawali cinta pertamanya di tahun baru, Januari lalu. Hanya bermodal sogokan boneka babi kesukaannya, hati Kassa telah lumer bak es krim yang dijemur di atas genting.
Masa-masa pacaran dengan kakak kelasnya itu tak seindah drama korea. Kassa berjuang habis-habisan untuk membuat lingkungannya setuju. Teman-temannya, juga orang tuanya. Maklum, ini adalah kali pertama dia memproklamasikan bahwa statusnya kini tak lagi single pada Ayah Ibunya. Hati Kassa ,elambung tatkala keduanya menerima.
"Besok ulang tahunku, mau aku traktir dimana?" sambut Kassa riang pada rombongan ganknya yang sedang ngrumpi.Sinta, Nia, dan Ayu.
"Sorry, PR kita kan banyak." Kata Nia ketus.
"Kalian kenapa sih, masih sewot aja. Aku udah dua bulan jadian sama Eno. Kalian lihat donk, nyatanya hubungan kami baik-baik saja. Masih menganggap Eno cowok nggak baik-baik juga, hah? Tak tertahankan Kassapun naik darah. "Kalian sahabat atau bukan sih? Eno yang bisa bikin aku seneng, senyum, bahagia. Eno tipe cowok idaman aku. Pinter matematika, pinter ngedrum, pekerja keras! Aku ada disini karena aku masih menganggap teman itu ada dibalik pacar, tapi kalian malaahh.." Kassa tak melanjutkan makinya. Dia mengangkat bahu lalu membalikkan badan. Pergi. "Terserahlah.." mungkin begitu pikirnya.
Sebuah boneka, cokelat, buket bunga, kalung bergantung hati, dan kue ulang tahun telah Kassa borong dari Eno. Lebih menggembirakan lagi, kado kado itu ia dapatkan ketika pelajaran berlangsung.
"Ini rumus menghitung operasi aljabar." Pak Jarmono menerangkan sambil menulis di papan tulis ketika ramai-ramai suara dari luar menjejal masuk ke ruang kelas Kassa. Eno dengan rombongan satu kelasnya memberikan nyanyian dan menghadangkan kue dan lilin untuk ditiup Kassa.
"Ada apa ini?" Pak Jarmono terheran, tanpa marah. Pertanyaan beliau tak ditanggapi sedikitpun karena perhatian seluruh kelas telah tertanjap apda Eno yang membawa boneka dan buket mawar merah untuk Kassa. Wanita mana yang tak iri? Romantis dan so sweet sekaliiii...
Ulang tahun Kassa yang ke 16 menyedot banyak pasang mata dan komentar. Ulang tahunnya hari ini, ke 17, ketika banyak yang menyatakan bahwa gerbang kedewasaan dimulai pada umur ini, nyatanya tak semeriah kemarin. Tak ada kejutan di kelas. Tak ada canda tawa Sinta, Nia dan Ayu saat makan bersama. Hanya hujan dan kesepian. Eno yang ditunggu juga tak datang. Tak mengucapkan satu katapun meski hanya SMS atau telepon singkat. Ah paling Eno sedang sibuk, pikirnya.
Eno sudah lulus, sudah kuliah di salah satu universitas di kota yang berbeda dengan Kassa. Kassa di Jogja, Eno di Semarang. Namun apa jarak yang masih terjangkau ini tidak dia sempatkan untuk menemuiku? Pikirannya semakin melayang.
Hingga malam tiba, Eno tak sedetikpun ada kabarnya. Kassa gusar. Ragu apa hendak menghubungi dulu atau tidak. Kassa takut mengganggu. Akhirnya Kassa hanya menunggu, kalau-kalau Eno akan memberi kejutan di sisa-sisa tanggal ini.
Jam sepuluh malam telah lewat lima menit. Itu berarti Ibu tidak akan lagi mengijinkan tamu masuk rumah. Kassa mengurung diri di kamar. Kecewa.
Paginya, kakak Kassa mengirim sms. Kakak Kassa sudah kuliah di Semarang semester lima. SMSnya singkat namun sangat memukul hati Kassa.
"Maaf ya dek, aku nggak yakin itu Eno atau bukan. Tapi aku melihatnya bergandengan dengan cewek di Mall Ciputra. Kebetulan Kakak sama Mbak Dea jalan-jalan kesana semalam. Kakak ngga berani nyamperin dek. Kamu jangan ngambek dulu. Konfirmasi pelan-pelan ya."
Kassa tak membalas. Tak pula menurut saran kakaknya itu. Seketika dia menyentuh tanda panggilan di kontak dengan nama 'Eno Sweetheart'.
Gayung bersambut. Eno menjawab.
"Hallo sayang? Ada apa?" Nadanya lembut.
"Kamu semalem kemana?" Kassa sedikit meledak.
"Kamu kenapa, kok galak gitu? Semalem aku bikin tugas yank, tugasku banyak banget. Ini masih lembur, belum selesai." Eno menjawab dengan kalem dan tenang.
"Nggak ke Mall CIputra?" kali ini nada Kassa sedikit nyindir.
Seketika obrolan itu terputus jeda waktu. Eno hanya diam.
"Eno, kau tahu kan kemarin aku ulang tahun? Kenapa kau tak memberiku ucapan, meski cuma sms kek. Sesibuk apa kamu sampai nggak ada waktu? Kau lupa kan? Kau asyik jalan dengan gadis lain kan? Aku selalu berpikiran baik pada hubungan kita yang semakin sulit ini No." Kassa sudah sambil menarik kain tissue untuk mengusap air matanya.
"Yank, sabar dulu. Kita ini LDRan, bagaimana bisa bertahan kalau tak saling percaya? Kau percaya aku kan. Aku sayang banget sama kamu. Aku nggak mungkin niggalin kamu.Yah. Aku ini kuliah yank, sambil kerja. Jadi aku sibuk banget." Entah ucapan Eno mengandung unsur hipnotic sehingga Kassa dengan mudah melapangkan dadanya untuk memberi maaf. Tanpa ingat ulang tahun yang terlupakan oleh orang yang paling diharapkannya.
Dua tahun pacaran jarak jauh itu terus berlanjut. Kini Kassa sudah kelas tiga SMA. Impiannya satu. Kuliah di tempat yang sama dengan Eno. Ia ingin segera mengakhiri hubungan LDR yang membuatnya menyimpan bongkahan rindu di brankas-brankas hatinya.
"Ujiannya bulan April, Bu, jadi sejak Januari ini Kassa sudah mulai pulang sore, ada tambahan pelajaran." Memohon sang Ibu untuk mengerti. Memohon pula pada sang Ibu untuk memberi uang saku tambahan. Dasar!
Sinta, Nia dan Ayu telah terpisah kelas dengan Kassa. Kassa masuk kelas IPA, dan mereka ada di kelas IPS dan Bahasa. Mereka telah jarang berkomunikasi seperti dulu. Kassa sudah menemukan teman baru, yang Kassa anggap lebih seru, lebih mau menerima hubungan Kassa dan Eno.
"Eh, bulan depan ada yang ulang tahun lho... Makan-makan." Goda si Marta, sahabatnya yang paling suka dandan.
"Hehe. iya cepet kali nih. Berasanya baru kemarin sweet seventeen. eh sekarang udah 18 aja, makin tua. hihi."
"Iya yah. Kamu juga masih awet aja ya sama Eno." Sahut Poppy, yang paling anteng, berjilbab.
"Mmm, sebenarnya sudah sejak November lalu aku dicuekin sama Eno Pop. Dia nggak pernah main ke rumah lagi. Katanya kalo weekend dia partime kerja, gitu. Gak tahu kenapa sepertinya perasaannya kepadaku berubah." Kassa terlihat lebih menekuk wajahnya.
"Eits nggak boleh sedih donk. Nggak boleh galau. Sa, positive thinking aja lagi. Kita kan masih SMA, nggak tahu dunia kuliah, mungkin emang sibuk banget. Kita siap-siap aja buat ujian nasional, supaya bisa kuliah juga. Tul?" Tia menambahkan.
Mereka lalu asyik lagi dengan buku-buku biologi nya. Saling tanya jawab.
"Yeeee... selamat ulang tahun ya Sa.." Putra, cowok sekelasnya menyambut ketika Kassa masuk ruang kelasnya. Sontak seisi kelas tahu dan mengantri memberinya ucapan selamat.
"Makasih, makasih banget ya." Kassa menjawab singkat. Setelahnya, Kassa menghampiri kursinya. Duduk dan meletakkan kepalanya di meja. Poppy teman sebangkunya terheran.
"Sa, kau tak apa? Sakit ya?" Poppy menyentuh pundak Kassa.
Kassa memandang Poppy dari kaca bening di depan matanya.
"Loh, kau pakai kacamata? Minus ya sekarang? atau kado dari Eno ya? Poppy meluncurkan papan-papan tanda tanya.
Kassa hanya melepas kaca matanya. Memperlihatkan pada Poppy matanya yang sembab, bengkak, layu, dan masih penuh air mata.
"Loh, kamu kenapa Sa? Poppy berbisik keheranan.
Kassa terisak.
"Eno minta putus tadi malam Pop. Hanya lewat sms. Tanpa alasan. Di malam ulang tahunku. Di saat aku hendak akan menghadapi ujian nasional."
Poppy terhenyak, lalu dipeluknya sahabatnya itu.
"Sabar ya Sa. Ini kejutan buat kamu, dari Allah. Supaya kamu jadi lebih dewasa. Kau akan dapat yang lebih baik. semua akan indah pada waktunya."
-tamat-
Hualien, Taiwan
16 Desember 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mari berbagi kebahagian, disini ya..